Selasa, 10 Februari 2009

Pengamen


Pengamen


Oleh: Fatkhul Hikmah,

santri kelas XD MAT Ma’ahid Kudus

Terik Matahari menyengat kulit, nafas ngos-ngosan, tenggorokan mongering, perut keroncongan, baju compang – camping, beralaskan sandal jepit, tetesan keringat berceceran di jalan. Soleh berdiri tetap di pinggir jalan raya dan membawa gitar layaknya tiang berndera. Lampu merah menyala, Soleh bergegas menghampiri pengendara sambil memetik gitarnya.

Soleh : (menyanyikan lagu pria kesepian So7)

Pengendara : “ Lagunya bagus”

Soleh : “ Sabar.. sabar… إن الله مع الصابرين “. Tok tok tok, “siang bang?”.

Preman : “Eh… gembel, elo nggak liat apa?, Siapa yang ada di hadapan elo sekarang ini, he… siapa?”

Soleh : “ Maap bang, saya nggak tahu”

Preman : “ Gue ini pemimpion preman di daerah ini tahu! Dan kenapa elo berani ngamen di wilayah gue!”

Soleh : “ Saya mau cari uang untuk makan, Bang”

Preman : “ asal elo tahu ya, setiap orang yang ngamen di sini tunduk am ague dan harus bayar uang keamanan, paham!”

Soleh : “ Iyya, ya, papapaham bang paham. Maap, lagi pula saya baru mangkal di sini, baru dua minggu jadi belum tahu peraturannya, map bang”.

Preman : “Oke, kali ini gue maapin, sekarang cepat cepat elo serahin semua uang hasil ngamen elo sebelum lampu hijau menyala atau nyawa elo melayang”.

Soleh : “ Iyya bang, ini uangnya”.

Setelah menyerahkan uangnya kepada preman itu, Soleh pergi ke tempat pangkalan dekat lampu merah, duduk dan berbicara dengan gitarnya.

Soleh : “ Hey gitar tua, saya senang karenamu, dan saya begini juga karenamu, sekarang saya putuskan persahabatan kita berakhir di sini, saya nggak ingin hidup saya hancur hanya karenamu. Selamat tinggal gitar tuaku. I am Sorry Good Bye!”

Soleh berjalan di sebuah desa, ia melihat musholla dan memasukinya. Di sana Soleh menangis, merintih, menyesal atas dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan. Lalu pak Ustadz mendengar suara rintihan dan menemuinya.

“ Kenapa kamu menangis nak?, apa yang terjadi padamu hingga kamu bias seperti ini?”, Tanya pak Ustadz.

Soleh : “ Maaf pak Ustadz, saya sudah banyak berbuat dosa, saya sudah mengecewakan orang-orang yang ada di sekitar saya, saya sudah menyusahkannya. Apa yang harus saya lakukan pak Ustadz, untuk menebus segala dosa dan kesalahanku. Dan bagaimana saya harus menghadapi cobaan ini?”

Pak Ustadz : “ Bersabar dan bertobatlah. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar, dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Soleh : “ Benarkah pak Ustadz?”

Pak Ustadz : “Insya Allah nak, oh ya… kamu tinggal dimana dan siapa orang tuamu?”

Soleh : “Saya tidak punya tempat tinggal, orang tua saya sudah meninggal sejak saya berumur 10 tahun, saya hanya sebatang kara pak”.

Pak Ustadz :”Em.. begini saja, kebetulan masjid ini tidak ada pengurusnya, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di masjid ini dan Bantu-bantu membersihkannya”.

Soleh : “Terima kasih atas pertolongannya pak Ustadz, saya janji akan merawat masjid ini selama saya di sini”.

Beberapa lama kemudian Pak Ustadz menawarkan pekerjaan kepada Soleh karena pak Ustadz melihat bahwa Soleh benar-benar ingin merubah nasibnya dengan mencari pekerjaan baru. Akhirnya Soleh mendapatkan pekerjaan itu , yaitu sebagai penggembala sapi. Meski hanya sebagai penggembala sapi, tetapi Soleh tetap semangat menjaga kepercayaan itu sebaik mungkin, hingga sapi-sapi itu semakin bertambah banyak. Dan pak Ustadz pun sangat bangga terhadap Soleh , sampai-sampai pak Ustadz menghadiahkan suatu yang sangat istimewa untuknya yaitu putri semata wayangnya yang sholehah dan cantik. Ini adalah sebagai balasan atas jasa Soleh kepada pak ustadz.

Sholeh : “ Alhamdulillah, ya Allah, Engkau telah mengirim seorang wanita yang Sholehah sebagai pendamping hidupku. Ternyata dibalik semua ini aada anugerah yang Engkau berikan kepadaku dan aku percaya Engkau selalu bersama orang-orang yang sabar.

Reaksi:

1 komentar: