Kamis, 15 Oktober 2026

Menembus Laju Waktu: Mengapa Kita Harus Bersegera dalam Kebaikan?

 Waktu terus bergulir tanpa kompromi. Rasanya baru kemarin kita merayakan Hari Raya Idul Fitri dan memotong hewan kurban di bulan Dzulhijjah. Namun tanpa disadari, saat ini kita sudah berada di penghujung Rabiul Akhir. Kalender di hadapan kita menunjukkan bahwa hanya dalam hitungan bulan, Rajab dan Sya'ban akan menyapa, hingga akhirnya kita kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan.

Pagi menyapa, tiba-tiba hari sudah siang. Dzuhur selesai, matahari pun bergegas tenggelam. Minggu berganti bulan, dan tahun berlalu begitu cepat. Pernahkah kita merenungkan betapa cepatnya laju waktu saat ini?

Fenomena ini sejatinya telah disabdakan oleh Rasulullah SAW belasan abad yang lalu. Beliau mengisyaratkan bahwa salah satu tanda makin dekatnya hari kiamat adalah yaqtaribuz zaman—waktu terasa semakin singkat dan cepat berlalu. Satu tahun terasa bagai satu bulan, satu bulan bagai satu minggu, dan satu hari berlalu sekejap mata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengingatkan sebuah hakikat mendalam:

"Iman itu bukanlah sekadar angan-angan kosong atau cita-cita yang dihias di dalam hati, melainkan apa yang menghujam kuat dalam dada dan dibuktikan secara nyata melalui amal perbuatan."

Jika iman hanya sebatas cita-cita di masa depan—"Nanti kalau sudah tua saya mau taubat" atau "Nanti kalau akhir pekan saya mau sedekah"—maka laju waktu yang sangat cepat ini akan menelan kita sebelum cita-cita tersebut sempat terwujud.

Gelombang Fitnah dan Hati yang Berbolak-Balik

Mengapa kita tidak boleh menunda-nunda? Mengapa harus bersegera? Alasan utamanya adalah karena kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah dan godaan. Rasulullah $\text{SAW}$ memberikan gambaran yang menggetarkan jiwa tentang kondisi akhir zaman:

"Beralihlah kamu sekalian kepada amal-amal saleh sebelum datang fitnah yang menyerupai potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di mana pada pagi hari seseorang masih beriman, namun di sore harinya ia telah menjadi kafir; atau di sore hari ia masih beriman, lalu di pagi harinya ia berubah menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit kenikmatan dunia." (HR. Muslim)

Hati manusia dinamakan al-qalb karena sifatnya yang sangat mudah berbolak-balik. Boleh jadi pagi hari kita tersentuh mendengar kebaikan, namun sore harinya godaan dunia menyapa dan membuat iman goyah. Obat terbaik dari kekhawatiran ini adalah bersegera beramal sebelum kesempatan tersebut dirampas dari tangan kita.

4 Seruan "Bersegera" dalam Al-Qur'an

Jika kita mentadabburi Al-Qur'an, Allah SWT tidak pernah menggunakan kata "santai" atau "nanti saja" untuk urusan akhirat. Untuk urusan ketaatan, Al-Qur'an menggunakan kata kerja yang menuntut kecepatan:

  1. Bersegera dalam Kebaikan

    “Fastabiqul khairat — Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Dalam ketaatan, kita diperintahkan untuk berlari dan berkompetisi, bukan sekadar jalan di tempat.

  2. Bersegera dalam Taubat dan Ampunan Allah

    “Wa sari’u ila maghfiratim mir rabbikum... — Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Rabbmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi...” (QS. Ali 'Imran: 133). Dosa tidak boleh dibiarkan mengendap; ketika menyadari kesalahan, saat itu juga kita harus berlari menuju ampunan-Nya.

  3. Bersegera dalam Berdakwah

    Al-Qur'an menceritakan sosok lelaki dari ujung kota (Rajulun min aqsal madinati yas'a) dalam QS. Yasin: 20: "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas (berlari kecil) dia berkata: Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu!" Ia tidak menunggu dipanggil, melainkan bergegas melangkah demi menyebarkan kebenaran.

  4. Bersegera dalam Menuntut Ilmu

    Dalam QS. 'Abasa: 8, Allah menggambarkan sosok Ibnu Um MaktumRA: “Wa amma man ja'aka yas'a — Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)...” Langkah kaki menuju majelis ilmu harus diayunkan dengan semangat dan kesegeraan.

Perlombaan Para Sahabat dan Air Mata Kerinduan

Para sahabat Nabi SAW paham betul prinsip ini. Mereka memandang setiap detik sebagai peluang emas yang tak boleh terbuang.

Suatu ketika, saat Rasulullah SAW menyerukan infak untuk membiayai pasukan perang, Umar bin Khattab RA berniat mengalahkan kebaikan Abu Bakar As-Siddiq RA. Umar menyumbangkan separuh dari seluruh harta kekayaannya. Namun, Abu Bakar datang membawakan seluruh hartanya tanpa tersisa, seraya berkata, "Aku tinggalkan untuk keluargaku Allah dan Rasul-Nya." Meneteslah air mata Umar seraya mengakui bahwa ia tidak akan pernah bisa mengungguli Abu Bakar dalam kebaikan.

Tak hanya yang kaya, sahabat yang miskin pun memiliki kerinduan luar biasa untuk beramal. Dalam QS. At-Taubah: 92, diabadikan kisah sekelompok sahabat miskin yang datang kepada Rasulullah SAW agar bisa ikut bertempur di Perang Tabuk. Ketika Rasulullah SAW menyatakan tidak memiliki kendaraan untuk mengangkut mereka, mereka pulang sambil bercucuran air mata. Mereka menangis tersedu-sedu bukan karena tidak memiliki harta duniawi, melainkan karena tidak memiliki kesempatan untuk berkorban di jalan Allah.

Pelajaran Kelam dari Kisah Barsisa: Bahaya Penundaan

Untuk melengkapi renungan ini, ada sebuah kisah nyata dari zaman Bani Israil tentang seorang ahli ibadah bernama Barsisa. Ia adalah sosok yang sangat tekun beribadah hingga puluhan ribu murid belajar kepadanya.

Setan yang frustrasi menggoda Barsisa secara langsung akhirnya menggunakan strategi halus: membisikkan penundaan dan rasa aman dari fitnah.

Ketika Barsisa dititipi seorang gadis oleh saudara-saudaranya yang hendak berperang, setan masuk melalui langkah-langkah kecil (khutuwatisy syaithan):

  • Langkah 1: Setan membisikkan agar Barsisa menaruh makanan di dalam kamar gadis itu, bukan di luar pintu.

  • Langkah 2: Setan membisikkan agar Barsisa mengajak gadis itu berbincang dari balik tabir agar tidak kesepian.

  • Langkah 3: Tabir pun dibuka, perbincangan berlanjut hingga terjadi perzinahan dan gadis itu hamil.

Saat kepanikan melanda, setan kembali berbisik: "Bunuhlah gadis itu dan kuburkan! Nanti engkau bisa bertaubat." Tergiur dengan ilusi "taubat di masa depan", Barsisa membunuh gadis dan bayinya. Namun, kejahatan itu akhirnya terbongkar dan Barsisa diseret ke tiang gantungan.

Di detik-detik terakhir sebelum lehernya terjerat tali, setan menampakkan diri dan menawarkan keselamatan dengan syarat Barsisa mau bersujud kepadanya. Dalam keadaan panik, Barsisa menganggukkan kepalanya sebagai isyarat sujud kepada setan. Eksekusi pun berjalan, dan Barsisa tewas dalam keadaan musyrik—menjual seluruh ibadah seumur hidupnya hanya dalam hitungan detik.

Al-Qur'an mengisyaratkan kejadian ini dalam QS. Al-Hasyr: 16:

"Kiasan (bujukan setan) itu adalah seperti setan ketika berkata kepada manusia: 'Kafirlah kamu!' Maka ketika manusia itu telah kafir, setan berkata: 'Sesungguhnya aku lepas tangan dari kamu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam'."

Alarm Pengingat Diri

Kisah Barsisa adalah pelajaran berharga bahwa setan jarang menyuruh manusia berbuat jahat secara mendadak. Sering kali, setan hanya membisikkan kalimat sederhana: "Nanti saja, kamu masih muda," atau "Besok masih ada waktu."

Mari kita ingat kembali:

  1. Waktu bergerak sangat cepat dan kesempatan beramal terus berkurang.

  2. Fitnah akhir zaman begitu dahsyat, sementara hati manusia sangat ringkih dan mudah berubah.

  3. Perintah Allah untuk bersegera harus menjadi panduan utama dalam hidup.

  4. Teladani semangat para sahabat yang bersedih ketika kehilangan kesempatan beramal shaleh.

Jika ada niat baik di hati kita hari ini—ingin bersedekah, memaafkan saudara, membaca Al-Qur'an, atau bertaubat dari dosa—lakukan detik ini juga. Jangan tunggu besok, karena belum tentu nafas kita sampai di hari esok. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dalam ketaatan dan mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin


(disampaikan dalam kajian dzuhur Masjid Al Ikhlas Jakarta, 5 Oktober 2026)

0 komentar:

Posting Komentar