Anak adalah Anugerah

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Kekasih Hati

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Pesona Sulawesi Tengah

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com

Pantai Panjang Bengkulu

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

ini Medan bung...!

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Jumat, 28 Agustus 2026

Khutbah Jumat: Bukti cinta kepada Nabi SAW

 


KHUTBAH PERTAMA

 

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam yang tak henti-hentinya melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Di hari Jumat yang mulia ini, marilah kita perbaharui ketakwaan kita serta memperdalam rasa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Cinta kepada Beliau bukanlah sekadar desah napas atau pujian manis di bibir saja, melainkan getaran jiwa yang menggerakkan seluruh nadi kehidupan kita.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Untuk memahami hakikat cinta ini, mari kita menengok sejarah dan melihat bagaimana indahnya bentuk kepekaan para sahabat terhadap Rasulullah SAW. Suatu hari, Abu Talhah RA memperhatikan fisik Rasulullah SAW dengan begitu detail. Dari lirihnya suara dan raut wajah Beliau yang melayu, Abu Talhah langsung mengenali tanda-tanda bahwa Rasulullah SAW sedang menahan lapar yang luar biasa.

Didorong oleh rasa empati yang mendalam, Abu Talhah bergegas pulang menemui istrinya, Ummu Sulaim, lalu bertutur, "Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh aku mendengar suara Rasulullah SAW begitu lemah, dan aku tahu Beliau sedang kelaparan." Ummu Sulaim pun segera mengeluarkan sedikit roti gandum dan membungkusnya untuk dikirimkan kepada Beliau. Abu Talhah tidak membiarkan Nabi SAW berada dalam kesusahan; perhatiannya melahirkan aksi nyata untuk memuliakan Baginda Nabi.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Jika para sahabat membuktikan cinta mereka karena hidup mendampingi Beliau, tahukah kita betapa besarnya pula kerinduan Rasulullah SAW kepada kita yang hidup di zaman ini? Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan para sahabatnya:

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا

"Aku sangat rindu untuk bertemu dengan saudara-saudaraku (ikhwani)."

Para sahabat terkejut lalu bertanya, "Bukankah kami ini saudara-saudaramu, ya Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab:

أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

"Kalian adalah sahabat-sahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku (ikhwani) adalah mereka yang belum datang setelahku (umat yang beriman kepadaku padahal belum pernah melihatku)." (HR. Muslim)

Masya Allah! Beliau merindukan kita dan menyapa kita sebagai ikhwani (saudara-saudara Beliau), padahal kita belum pernah bertatap muka langsung dengan Beliau.

Pertanyaannya, lantas apa bukti cinta balasan dari kita untuk Nabi SAW? Cinta membutuhkan pembuktian sejati, dan jalan pembuktian itu adalah dengan meneladani Beliau melalui empat pilar utama:

1. Membenarkan Apa yang Dikabarkan (تصديقه فيما أخبر) Mencintai Nabi berarti membenarkan seluruh ajaran dan kabar yang Beliau bawa tanpa ada keraguan sedikit pun. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zumar: 33)

Kisah Pembuktian: Keteladanan ini tampak nyata pada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Ketika peristiwa Isra Mi'raj terjadi, kaum kafir Quraisy mengejek dan menganggap Nabi gila. Namun Abu Bakar tegas menjawab, "Jika Muhammad yang mengatakannya, maka sungguh ia benar, bahkan jika lebih jauh dari itu aku akan tetap mempercayainya."

2. Menaati Semua Perintahnya (طاعته فيما أمر) Cinta sejati selalu melahirkan kepatuhan mutlak. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

"Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: 'Kami mendengar, dan kami taat'." (QS. An-Nur: 51)

Meninggalkan ketaatan berarti mengancam keselamatan kita sendiri, sebagaimana peringatan-Nya dalam QS. An-Nisa verse 115 tentang ancaman kesesatan dan neraka Jahannam bagi yang mendurhakai Rasul.

Kisah Pembuktian: Saat Perang Uhud, pasukan pemanah diberi perintah tegas untuk tidak meninggalkan bukit. Namun ketika perintah itu dilanggar karena tergiur harta rampasan, kekalahan pahit harus ditanggung pasukan Muslimin. Ini menjadi pelajaran abadi bahwa taat kepada perintah Nabi adalah kunci keselamatan.

3. Menjauhi Apa yang Dilarang (اجتناب ما نهى عنه وزجر) Bukti cinta berikutnya adalah menjauhi segala hal yang dibenci dan dilarang oleh Beliau. Allah SWT berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)

Kisah Pembuktian: Ketika ayat tentang pengharaman khamr (minuman keras) turun, para sahabat yang sedang memegang gelas minuman tidak menunggu waktu lama. Tanpa ragu, mereka langsung memecahkan tempat-tempat khamr hingga jalanan Madinah dibanjiri oleh sisa-sisa minuman tersebut. Mereka serta-merta berhenti saat larangan itu tiba.

4. Beribadah Sesuai Syariatnya (أن لا يعبد الله إلا بما شرع) Cinta tidak membuat kita mereka-reka cara beribadah, melainkan beribadah tepat seperti yang dicontohkan Beliau. Allah SWT berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (QS. An-Nisa: 80)

Kisah Pembuktian: Umar bin Khattab RA pernah berdiri di depan Hajar Aswad, lalu menciumnya seraya berkata, "Aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat. Jika bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu, aku tidak akan pernah menciummu." Umar mengajarkan bahwa ibadah adalah tentang mengikuti jejak Nabi, bukan menuruti logika semata.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Semoga Allah SWT mengurniakan kita hati yang senantiasa merindukan Rasulullah SAW dan menuntun langkah kita untuk membuktikan cinta tersebut melalui ikhtiar meneladani empat pilar ini dalam kehidupan sehari-hari.

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,

Mari kita koreksi diri kita. Sudahkah kerinduan Rasulullah kepada kita, kita jawab dengan keteladanan yang nyata? Moga Allah menghimpun kita bersama Beliau di telaga Al-Haudh kelak.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَالْكَفَرَةَ وَالْمُلْحِدِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوءَ الْفِتْنَةِ وَالْمَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً.

اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ وَالْمَبْلُوِّينَ فِي فُلُورِيسْ، وَكَالِيمَانْتَانَ، وَفِي سَائِرِ الْأَقَالِيمِ وَالأَقْطَارِ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَاكْشِفْ كَرْبَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْمَصَائِبَ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Musaba', Lc. M.M. 

(khutbah disampaikan di masjid Al Munir Jakarta Selatan 28 Agustus 2026)