Anak adalah Anugerah

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Kekasih Hati

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Pesona Sulawesi Tengah

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com

Pantai Panjang Bengkulu

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

ini Medan bung...!

Blog ini masih dalam tahap penyempurnaan silahkan memberi masukan dan saran ke alamat email musabaa@yahoo.com.

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Baru

Seperti anak kecil, yang gembira saat memakai baju baru atau manisan dengan warna warninya, atau pun mainan mainan baru. . Ini mungkin yang menjadikan kita gembira saat menjadi pegawai baru.
Tetapi, orang dewasa sangat tahu, bahwa bukan pada kebaruan itu stasiun pemberhentian terakhir.
Ini adalah hari hari untuk berkarya. sebab, apapun pekerjaan kita, itu hanyalah pilihan peran. Layaknya peran peran lainnya. Di sana mungkin ada kehormatan, kebanggaan, sanjungan. Tapi sejatinya sejauh mana peran itu berjalan, sejauh mana jabatan itu berfungsi, sebesar itu kehormatan dan ke-baru-an memberi arti.

Sabtu, 03 Maret 2012

Keikhlasan, Saat Dirimu Merasa Tidak Lebih Baik daripada Orang Lain


dakwatuna.com - (David Hadi) Melakukan keikhlasan, tidaklah semudah mengatakannya. Sebagaimana pernah diakui oleh seorang ulama besar Sufyan ats-Tsauri, beliau berkata, “Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku.”
Namun, bukan berarti ikhlas itu tidak dapat dilakukan, dan bukan berarti ikhlas tidak dapat diusahakan. Karena ikhlas adalah suatu ‘ilmu’. Ilmu di mana kita dapat mempelajarinya, dan terus mempelajarinya, sampai akhirnya kita benar-benar paham akan makna ikhlas. Ikhlas itu sendiri merupakan hal yang amat sakral, ia adalah perintah dan ia adalah syarat diterimanya suatu ibadah.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Memang benar, ikhlas adalah rahasia, rahasia dalam hati masing-masing insan. Dan ikhlas adalah rahasia dari rahasia yang teramat lembut, sehingga samar dari dugaan semua yang hidup. Begitu samar dan tersembunyi, sehingga sulit bagi diri seseorang atau orang lain untuk mengukur kemurniannya. Dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan:
Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku Cinta.” (HR. al-Qazwaini)
Hasan al-Banna pernah berkata tentang makna ikhlas, “Ikhlas adalah seorang saudara muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya, dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Allah, untuk mencari ridha Allah dan balasan yang baik dari Allah dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”
Salah satu sebab jauhnya diri kita dari ikhlas ialah sifat ‘ujub, sifat berbangga diri yang berlebihan, dan menganggap orang lain tidak lebih baik dari diri kita. Sifat ini yang sering muncul tanpa kita sadari, yang mampu merobek-robek keikhlasan dalam diri kita. Ia yang mampu menodai kemurnian ikhlas dalam hati dan ia yang mampu mengotori hati dengan lendir-lendir kenistaan.
Tentunya kita tak ingin, keikhlasan yang ada di dalam hati ini, keikhlasan yang selalu kita jaga ini, ternodai dan bahkan terkotori. Dan hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga keikhlasan adalah dengan menghapus sifat ‘ujub itu dari dalam hati, membuangnya jauh-jauh tanpa tersisa. Dimulai dengan hal yang kecil dan sederhana, yaitu anggaplah orang lain lebih baik daripada diri kita, anggaplah ia lebih mulia di sisi Allah.
Jikalau kita melihat seseorang yang lebih muda daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Anak ini masih muda usianya, belum banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku yang sudah lebih tua darinya tentu telah banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah. Maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih baik daripada aku di sisi Allah.”
Jikalau kita melihat seseorang yang lebih tua daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Orang tua ini sudah beribadah kepada Allah lebih dahulu daripada aku, maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih banyak pahalanya, lebih mulia daripada aku di sisi Allah.”
Manakala kita melihat orang alim, maka hendaklah kita berkata, “Orang alim ini telah dikaruniakan kepadanya bermacam-macam pemberian ilmu yang tidak dikaruniakan kepadaku. Ia telah sampai ke martabat yang aku tak sampai kepadanya, dan ia mengetahui berbagai masalah yang tak aku ketahui, maka bagaimana aku bisa sepertinya sedangkan diriku masih bergelimang dengan dosa dan maksiat?”
Bila kita melihat orang yang bodoh, maka hendaklah kita berkata, “Orang ini bodoh lantas ia berbuat maksiat kepada Allah dengan kejahilannya, tetapi aku berbuat maksiat dengan ilmuku, dengan kesadaranku, maka bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti?”
Saat kita menyaksikan orang fasik atau ahli maksiat, maka hendaklah kita berkata, “Benar orang ini jasadnya bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa, tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya hatinya selalu benci pada kemaksiatan yang ia lakukan, dan bersamaan dengan itu ia tetap mengagungkan Tuhannya. Terbuka kemungkinan suatu saat nanti ia bertaubat dan menyesali perbuatannya, lalu ia melakukan amal shalih yang nilainya lebih tinggi di mata Allah daripada aku. Sedangkan aku sendiri sampai saat ini dan nanti, tidak pernah tahu apakah ketaatanku itu diterima oleh Allah atau tidak. Dan aku juga tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku esok hari.”
Di kala kita melihat orang kafir, maka hendaklah kita berkata, “Aku tidak tahu, kemungkinan orang kafir ini akan beriman, memeluk agama Islam dan akhirnya mempunyai husnul khatimah, sedangkan aku tidak tahu apakah akan bisa menjaga keimanan ini hingga akhir hayat dan mendapatkanhusnul khatimah?”
Pertanyaan seperti ini bukan mengada-ada, tapi pasti dan yakin. Karena jika kita bertanya, siapakah yang dapat memastikan kalau kita dapat menjaga keimanan ini hingga akhir hayat, lalu kita memperoleh husnul khatimah? Siapa yang bisa tahu secara pasti kalau dirinya pasti diampuni oleh Allah? Siapakah yang dapat menjamin kalau diri kita pasti selamat di akhirat? Semua itu adalah rahasia Allah, yang tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Bahkan beliau, Rasulullah SAW berkata:
Katakanlah: Aku tidak mengatakan padamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’aam: 50)
Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-‘Araaf: 188)
Referensi: Mahmud Ahmad Mustafa, Dahsyatnya Ikhlas.

Minggu, 20 Maret 2011

Breaking The Time


Judul buku : Breaking The Time; Kiat Memaksimalkan Keterbatasan Waktu Agar Hidup Lebih Dahsyat
Penulis : Satria Hadi Lubis
Penerbit : Pro You (Kelompok Pro U Media) Yogyakarta
Tahun Terbit : November 2010
Tebal : 126 hlm

Adakah "hukum" yang sama bagi orang-orang sukses yang bisa dipelajari oleh orang lain secara mudah dan praktis? Satria Hadi Lubis memastikan bahwa "hukum" itu ada. Salah satunya –bahkan intinya- adalah pengaturan waktu yang efektif. Managemen waktu. Sayangnya, banyak orang yang tidak mampu melakukannya.

Sebagian orang mungkin telah mempelajarinya melalui membaca buku tentang itu. Namun, banyak buku tentang managemen waktu yang terlalu teoretis. Karena itulah Satria Hadi Lubis menulis buku ini.

Sesuai dengan judulnya, setelah membaca Breaking The Time, diharapkan pembaca mampu mendobrak keterbatasan waktu dan memperoleh keberlimpahan waktu. Tampaknya, harapan ini sangat mungkin tercapai. Sebab, nyatanya, buku yang diterbitkan oleh Pro You (Kelompok Pro U Media) ini berisi panduan step by steptentang manajemen waktu. Mulai dari hal yang paling mendasar, yakni mendefinisikan misi hidup, lalu menentukan peran, visi peran sampai pada teknis pembuatan rencana pekanan dan rencana harian.

Misi Hidup
Konsep Manajemen Waktu Breaking The Time dimulai dari misi hidup. Dalam pandangan Satria Hadi Lubis, misi hidup sangat penting untuk, tidak hanya dibuat, tetapi juga dituliskan lalu dipasang di tempat strategis agar bisa dibaca setiap saat, lalu terinternalisasi dan menjadi pikiran bawah sadar.

Bagi Anda yang telah membaca buku Anis Matta, khususnya Delapan Mata Air Kecemerlangan, istilah "misi hidup" Satria Hadi Lubis tidak sama persis dengan yang dimaksudkan Anis Matta. Karenanya, ia juga berbeda secara mendasar pada bagaimana "memunculkan" misi hidup itu. Anis Matta mengatakan bahwa misi hidup –dalam Islam- bersifat given. Manusia muslim hanya perlu menyadarinya, bukan memformulasikannya. Satria Hadi Lubis dalam Breaking The Time ini justru merekomendasikan pembaca untuk membuat misi hidup. Jika kita amati, perbedaan itu terletak pada keumuman "misi hidup" yang dimaksudkan Anis Matta. Sedangkan Satria Hadi Lubis telah memasukkan unsur peran dalam rumusan misi hidup. Artinya, peran apa yang akan diambil dalam menjalankan misi besarnya sebagai hamba Allah. Pada titik ini, meskipun istilahnya berbeda, sebenarnya Anis Matta dan Satria Hadi Lubis tidak berseberangan.

Misi Hidup menurut Breaking The Time haruslah positif. Misi hidup Anda perlu mencakup jawaban dari enam pertanyaan; siapa Anda, mengapa Anda ada, Apa keunggulan Anda, untuk siapa Anda bekerja, apa produk/hasil kerja Anda, dan di mana Anda mengerjakannya.

Menentukan Peran
Setelah membuat dan menuliskan misi hidup, selanjutnya Anda perlu menentukan peran. Saat ini, tidak satupun manusia yang memiliki peran tunggal. Andapun pasti demikian. Untuk menentukan peran Anda perlu menginventarisir seluruh peran dan kemudian menyeleksinya. Misalnya sebagai karyawan, pengurus yayasan, anggota parpol, suami, ayah, anak (dari orang tua Anda yang masih hidup), anggota masyarakat, sekaligus penulis. Inventarisir semua peran itu. Kemudian seleksi. Jika ada yang tidak sesuai misi hidup, peran itu perlu dibuang. Jika ada yang memiliki kesamaan atau serumpun, peran-peran itu bisa disatukan. Misalnya peran sebagai suami, ayah, dan anak bisa disatukan menjadi peran keluarga.

Visi Peran
Langkah Breaking The Time berikutnya adalah menentukan visi peran. Visi peran ini perlu dibuat dengan sebuah –atau beberapa- kalimat yang terukur, fleksibel, dapat dicapai, jelas, dan singkat. Visi peran perlu dievaluasi dalam rentang waktu tertentu. Satria Hadi Lubis merekomendasikan tiga bulan atau enam bulan.

Rencana Pekanan
Setelah setiap peran Anda memiliki visi yang jelas, kini saatnya Anda memasukkannya dalam sasaran jangka menengah. Alatnya adaah rencana pekanan. Bagi Anda yang telah membaca buku 7 Habits of Highly Effective People, model rencana pekanan Breaking The Time tidak jauh dari itu. Pada lembar kerja itu ada kolom peran, prioritas pekanan, prioritas hari ini, dan jadwal kegiatan.

Setiap kegiatan atau agenda yang diisikan dalam rencana pekanan, semuanya harus mengacu kuadran II. Setidaknya kuadran IV. Pada matriks manajemen waktu, Satria Hadi Lubis membaginya menjadi enam kuadran. Jika pada 7 Habits of Highly Effective People Stephen R. Covey membagi menjadi empat kuadran: Penting - Mendesak, Penting - Tidak Mendesak, Tidak Penting – Mendesak, dan Tidak Penting – Tidak Mendesak,Breaking The Time membaginya begini; Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Mendesak, Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Tidak Mendesak, Sesuai Misi Hidup Tidak Sesuai Visi Peran – Mendesak, Sesuai Misi Hidup Tidak Sesuai Visi Peran – Tidak Mendesak, Tidak Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Mendesak, serta Tidak Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Tidak Mendesak.

Rencana Harian
Langkah terakhir dari manajemen waktu dalam Breaking The Time adalah membuat rencana kerja harian. Ia lebih detail dari rencana pekanan, sekaligus tidak boleh diisi dengan hal yang umum. Misalnya: "bekerja". Namun harus pada detail pekerjaannya. Misalnya: "membuat surat kontrak", atau "menemui klien untuk kerja sama X".

Jika rencana pekanan direkomendasikan dibuat pada hari Ahad, maka rencana harian direkomendasikan dibuat sebelum tidur atau pagi hari sebelum berangkat kerja.

Bukan Teori, Ini Buku Panduan
Meskipun tergolong tipis -126 halaman dengan ukuran 12 x 20 cm- buku Breaking The Time memuat banyak informasi penting seputar manajemen waktu sekaligus memberikan motivasi agar kita mampu memanfaatkan waktu dengan tepat. Nilai lebih buku ini tentu saja terletak pada muatannya yang bersifat panduan praktis. Dengan bahasa yang ringan disertai gambar-gambar ilustrasi menarik dan contoh tabel rencana pekanan dan rencana harian serta matriks, langkah-langkah Breaking The Time menjadi sangat mudah untuk dimengerti. Selanjutnya, selamat membaca sendiri bukunya dan semoga menjadi pendobrak keterbatasan waktu.... mukhlisindotblogspot

Rabu, 25 Agustus 2010

Nuzulul Qur'an Menurut Berbagai Madzhab



Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an) adalah hal yang sangat istimewa bagi umat Islam. Sebagaimana Al-Qur'an merupakan rahmat agung bagi umat ini, nuzulul Qur'an juga merupakan rahmat besar bagi umat ini.

Mayoritas umat Islam di Indonesia berpendapat nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Bahkan banyak pula yang mengadakan acara khusus untuk memperingati nuzulul Qur'an setiap tahunnya.

Di dalam Al-Qur'an, nuzulul Qur'an difirmankan Allah SWT dalam tiga ayat berikut ini:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah:185)

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad-Dukhan : 4)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar) (QS. Al-Qadr : 1)

Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 185 di atas, sebagian ayat Al-Qur'an bersifat menjadi bayan (penjelas) bagi sebagian ayat yang lain. Tidak ada pertentangan antar ayat Al-Qur'an.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa' : 82)

Demikian juga tiga ayat (QS. Al-Baqarah : 185, QS. Ad-Dukhan : 4, dan QS. Al-Qadr : 1) yang menjelaskan nuzulul Qur'an di atas. Ketiganya tidak bertentangan. Namun, dzahir ayat bertentangan dengan realitas sejarah, dimana Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun. Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua madzhab pokok, dan dua madzhab lain sebagai berikut:

Madzhab Pertama tentang Nuzulul Qur'an
Madzhab pertama ini merupakan pendapat dari Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, yang kemudian menjadi pendapat jumhur ulama'. Bahwa yang dimaksud nuzulul Qur'an dalam 3 ayat tersebut adalah turunnya Al-Qur'an sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia. Ini untuk menunjukkan kepada malaikat-Nya betapa besar masalah ini. Kemudian Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. 10 tahun ketika periode Makkiyah, dan 13 tahun dalam periode Madaniyah.

Dalil yang dipakai untuk memperkuat madzhab ini adalah:
1. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada lailatul qadar. Kemudian ia diturunkan selama dua puluh tahun" (HR. Hakim, Baihaqi, dan Nasai). Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya:

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya (QS. Al-Furqan : 33)

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra' : 106)

2. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an itu dipisahkan dari Adz-Dzkir, lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia, maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi SAW" (HR. Hakim)

3. Perkataan Ibnu Abbas:
"Allah menurunkan Al-Qur'an sekaligus ke langit dunia, pusat turunnya Al-Qur'an secara bertahap. Lalu, Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya bagian demi bagian" (HR. Hakim dan Baihaqi)

4. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an diturunkan pada lailatul qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur" (HR. Thabrani)

Madzhab Kedua tentang Nuzulul Qur'an
Madzhab kedua tentang nuzulul Qur'an yaitu yang diriwayatkan oleh Amr bin Syarahil Asy-Sya'bi, (seorang tabi'in besar, ahli hadits dan fikih, guru Imam Abu Hanifah, yang wafat tahun 109 H) bahwa yang dimaksud dengan nuzulul Qur'an dalam tiga ayat di atas adalah permulaan turunnya Al-Qur'an itu dimulai pada lailatul qadar di bulan Ramadhan. Lalu turun secara bertahap selama 23 tahun.

Dengan demikian, hanya ada satu macam cara turun menurut madzhab ini, yaitu secara bertahap kepada Rasulullah sebagaimana dinyatakan dalam ayat :

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra' : 106)

Orang musyrik yang diberitahu bahwa kitab samawi terdahulu turun sekaligus, menginginkan al-qur'an juga turun sekaligus.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا * وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan : 32-33)

Menurut Syaikh Manna Al-Qaththan, madzhab kedua yang diriwayatkan Asy-Sya'bi, dengan dalil shahih dan dapat diterima ini, tidak bertentangan dengan madzhab pertama. Selanjutnya Syaikh Manna Al-Qaththan mengatakan pendapat yang kuat adalah Al-Qur'an diturunkan dua kali : pertama, diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah pada lailatul Qadar, dan kedua, diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia pernah ditanya oleh Athiyah bin Aswad: "Dalam hatiku ada keraguan tentang firman Allah 'bulan Ramadhan itu bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an', dan firman Allah 'kami menurunkannya pada lailatul qadar'. Padahal Al-Qur'an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawal, dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharam, Shafar, dan Rabiul Awal". Ibnu Abbas menjawab: "Al-Qur'an diturunkan pada lailatul qadar sekaligus. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan sepanjang bulan dan hari"

Madzhab Ketiga tentang Nuzulul Qur'an

Yakni yang berpendapat Al-Qur'an diturunkan ke langit dunia pada 23 malam kemuliaan (lailatul qadar), yang pada setiap malam-malam kemuliaan itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan setiap tahunnya. Dari jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasul sepanjang tahun. Ini hasil ijtihad sebagian mufassir. Pendapat ini tidak mempunyai dalil.

Madzhab Keempat tentang Nuzulul Qur'an
Yaitu pendapat bahwa Al-Qur'an diturunkan pertama-tama berangsur-angsur ke Lauh Mahfudz, sebagaimana firman Allah:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ * فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (QS. Al-Buruj : 22)

Kemudian ke Baitul Izzah serentak, lalu turun sedikit demi sedikit dalam 23 tahun. Jadi menurut madzhab ini Al-Qur'an diturunkan dalam tiga tahap.

Menurut Syaikh Manna Al-Qaththan, pendapat ini sebenarnya tidak bertentangan dengan kedua madzhab pokok, karena sebelum diturunkan ke Baitul Izzah, Al-Qur'an memang tersimpan di lauh mahfudz sebagaimana QS. Al-Buruj ayat 22 di atas.

Tanggal Pertama Kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah
Al-Qur'an yang diturunkan pertama kali kepada Rasulullah adalah surat Al-'Alaq (Iqra') di gua hira yang terkenal itu. Mengenai tanggalnya, para ulama memiliki banyak pendapat yang satu sama lain ada juga yang berselish jauh. Sebagian mengatakan bulan Rajab dan sebagian lainnya mengatakan bulan Ramadhan. Namun yang benar adalah bulan Ramadhan sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 185.

Dari pendapat bulan Ramadhan ini, terpecah lagi ke dalam beberapa pendapat. Sebagian mengatakan tanggal 7, sebagian berpendapat tanggal 17, dan ada juga yang berpendapat tanggal 18. Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury setelah melakukan penelitian mengatakan di dalam Rahiqul Makhtum bahwa wahyu pertama tersebut jatuh pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 610 M, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan itu, hari Senin jatuh pada tanggal 7, 14, dan 21. Dengan mendasarkan kepada argumen bahwa Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada lailatul qadar, dan lailatul qadar ada pada malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan bahwa Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada rasulullah pada Tanggal 21 Ramadhan.

Demikian penjelasan mengenai Nuzulul Qur'an menurut berbagai madzhab, semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam bish shawab. [Bersama Dakwah, Sumber: مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Fi Zhilalil Qur'an]
muchlisin.blogspot.com

Kamis, 29 Juli 2010

A Message To Lazy Muslims


by Noreaga
Asalamu Alikum:

This post has been inspired by the hundreds of muslims who base their acceptance or rejection of information or knowledge, on whether or not they are present in hadeeth or Quran.

We have rcved thousands upon thousands of emails with questions stating where is your proof from the quran or hadeeth for saying this, or sharing that. Now what is wrong with this interpretation of knowledge or truth?

For one, i myself believe that the Quran holds all the answers to everything that ever was, and will forever be. I believe that everything we seek can be found in the Quran, and the Quran is the ultimate guidance to our lives. With that said, it should be clearly understood that we are the ones who lack knowledge and understanding to correctly grasp the treasures within the Quran and authentic hadeeth.

The Prophet pbuh placed a high urgency on acquiring knowledge, Several other teachings and sayings by the sahaba and Family revolve around why knowledge should be an obligation on every Muslim, and seeking knowledge is a form of 3ibada or worship. The Quran places a high emphasis on seeking knowledge and tafakur, or believers who take time to deeply think and examine concepts and forms of knowledge. The first word revealed to the prophet pbuh from the ALLAH SWT was "iqraa" or "read". Why do you think this is so?

We just completed a series titled the divine book. This series delves into several scientific miracles within the Quran. It is sad and unfortunate that i must say, if it wasn't for western non-Muslim scientists, we would have never grasped the brilliance of the verses that have been with us for centuries. Meaning if knowledge was not sought, we as Muslims would have never grasped the brilliance of the knowledge present in the Quran. Not because the Quran or hadeeth lacks this knowledge, but bcz we lack the understanding and knowledge to correctly grasp them. This is why muslims should stop being lazy and require hadeeth and quranic verses before deciding to delve and discover subjects. Its your obligation to search, build, seek, study, learn, build, and so on and so forth if you are to advance as an individual, or as an ummah. Just imagine if the scientists at nasa said, u know what we r not gonna delve into this subject bcz it is not present in hadeeth Quran?? Is this what Islam is about? Quite the contrary, it is after you seek knowledge that you truly start to appreciate the wisdom and beauty of the Quran and hadeeth.

Knowledge is never a Waste of time or effort:
Even if information contradicts the Quran and hadeeth, it is your responsibility to master the subject to correctly defend the Quran and hadeeth. You can not provide a quranic verse to an athiest scientist to disprove evolution, bcz he/she simply doesn't believe in the Quran. You have to provide solid evidence based on years of research and knowledge and then link it to the Quran, if you are to be a respected Muslim figure or 3alim (knowledgeable person) on a global scale. And what the wise followers of the Quran do, is use what the Quran reveals as guidance to master the mentioned knowledge at hand. Either way there is no room for a lazy ummah, sitting back and saying "I will not look into this bcz it is not shared in Quran or Hadeeth"

Muslims went from the leaders in the domains of literature, science, math, physics, biology, to a 3rd world ummah of followers, awaiting for knowledge to be fed to them, and whom will not even open a book since at face value the presented piece of information or knowledge is not present in their perspective of the Quran or Authentic hadeeth. Today the majority of scholars are not 3alims, even if they claim to be, because they do not posses the appropriate knowledge to lead the world, the way the true examples of Islam did. Why don't we have a Muslim bill gates?, or a Muslim Nasa? Is it bcz the Quran is not adequate or are we the inadequate ones? No matter how much you stress the hadeeth and the quran, if you are not a leading example in the world or your specific community or environment, then you have clearly not understood them, or their purpose.

The absolute creator is the creator of all forms of knowledge, therefor a journey towards knowledge, is one towards understanding and appreciating the brilliance of our creator ALLAH SWT, as well as yourself.

Wa ALLAHu a3lam.

Hope my point was understood, and helpful to the younger generation of Muslims reading this. We need more leaders, and more muslim noble prize winners, more muslim innovators, inventors, and more examples of accomplished and respected muslims figures.
May ALLAH guide us towards the correct wisdom and knowledge to change the world and ourselves to the better inshaALLAH.
http://jannah-wearecoming.blogspot.com